Arti Tick dalam Saham

Sebagai seorang trader, anda pasti sering mendengar istilah ‘tick’. Apa itu tick di pasar saham? Apa kegunaan seorang trader memahami tick? Apakah tick bisa digunakan untuk mendapatkan profit dalam trading? Mari kita bahas. 

Di pasar saham, tick itu sebenarnya sama atau mengacu pada FRAKSI HARGA SAHAM. Jadi kalau anda dengar istilah tick, maka tick itu sendiri adalah fraksi harga. Tentang apa itu fraksi harga saham, saya sudah pernah membahasnya juga disini: Arti dan Ilustrasi Fraksi Harga Saham.

Tick alias fraksi harga saham merupakan batasan atau perubahan satuan kelipatan harga saham yang diperbolehkan di dalam trading saham. Istilah tick biasannya kita dalam dua jenis istilah, yaitu TICK PRICE dan TICK SIZE.

Apa perbedaannya? Tick price maupun tick size sebenarnya tidak ada perbedaan. Kedua istilah ini mengacu pada satu arti saja yaitu tick alias fraksi harga. Jadi anda tidak perlu bingung kalau menemukan kedua istilah tick dalam trading. 

Oke kembali lagi. Jadi aturan tentang tick harga saham ini dibuat oleh Bursa Efek Indonesia supaya perdagangan saham bisa berjalan lebih teratur, sesuai dengan mekanisme pasar. 

Sebagai contoh, untuk harga saham rentang 2.000-5.000, ditetapkan tick harga saham sebesar Rp10. Itu artinya, kalau ada saham yang harganya 2.050, maka antrian harga dibawahnya adalah 2.040, 2.030, 2.020. Demikian juga untuk antrian harga diatasnya berarti: 2.060, 2.070, 2.080. 

Anda tidak mungkin menemukan harga saham yang harganya 2.050, tiba2 antrian dibawahnya menjadi 2.037 atau 2.033. Pergerakan antrian harga saham, bergerak sesuai tick / fraksi harga yang ditetapkan. 

Jadi tick dalam saham ini sangat berguna untuk membaca: Bid dan offer saham, spread harga saham, analisa tape reading, menentukan / memasang order beli dan jual suatu saham. Baca juga: Mengenal Spread Bid-offfer di Saham.

Untuk aturan2 fraksi harga saham, nggak akan saya bahas lebih banyak di pos ini, soalnya di artikel ini: Arti dan Ilustrasi Fraksi Harga Saham, kita sudah mengulasnya bersama. 

Tick saham adalah bagian dari mekanisme perdagangan saham yang benar2 harsus anda pahami kalau anda masih pemula, karena dengan memahami tick, anda bisa mengerti bagaimana cara menempatkan dan memasang order beli dan jual sesuai dengan mekanisme perdagangan saham. 

KEGUNAAN TICK UNTUK MENDAPAT PROFIT DI SAHAM

Tick dan besaran perubahannya bisa anda lihat pada bid dan offer suatu saham. Contoh tampilannya seperti berikut: 

Tick dalam saham

Jadi pada umumnya, di tampilan software online trading, selain menampilkan tick, anda juga bisa melihat tampilan bid dan offer price, jumlah bid dan offer lots, dan split (banyaknya orang yang melakukan antrian harga saham). 

Analisa-analisa bid offer ini bermanfaat untuk memetakan kekuatan permintaan dan penawaran suatu saham. Secara umum, kalau banyak yang beli harga saham cenderung naik dan juga sebaliknya. 

Nah, analisa bid offer dan analisa tick saham ini dinamakan dengan ANALISA TAPE READING. Cara melakukan analisa tape reading, sudah pernah saya bahas di pos berikut: Teknik Analisa Tape Reading Saham.  

Sehingga analisa tape reading bisa anda manfaatkan untuk mendapatkan profit untuk trading harian / intraday trading. Pelajari juga analisa2 dan cara memilih saham bagus buat trading harian disini: Ebook Intraday & One Day Trading Saham.

Hal ini karena analisa tick, bid-offer saham terjadi dalam satu hari trading dan mudah dianalisa untuk kepentingan trading jangka pendek. Sehingga, dengan memahami tick dan analisa bid-offer, anda bisa memanfaatkannya untuk trading harian. 

Saya rasa penjelasan tentang ‘arti tick dalam saham‘ di pos ini sudah cukup jelas. Salam profit…  

Berapa Harga Saham Per Lot?

Ketika anda beli saham, anda harus membeli saham dalam satuan lot (minimal beli saham adalah 1 lot, dan 1 lot = 100 lembar saham). Banyak rekan-rekan trader pemula yang bertanya: Berapa harga saham per lot? Baca juga: Jumlah Minimal Lot untuk Beli Saham. 

Berapa uang yang harus kita keluarkan untuk membeli saham satu lot saham? Untuk menjawab pertanyaan2 mengenai mekanisme perdagangan saham ini, maka saya akan membahasnya di pos ini.. 

Harga saham per lot sangat bervariasi. Ada yang harganya Rp500 per saham. Ada yang harganya Rp3.000 per saham. Ada yang harganya Rp10.000 per saham. Tetapi harga saham paling rendah di pasar saham adalah Rp50 per saham. 

Jadi di pasar saham reguler, anda tidak akan pernah menemukan harga saham per lot dibawah Rp50. Namun kita bicara dalam konteks pasar saham reguler. Untuk pasar saham tunai, saham per lot harganya bisa lebih rendah dari Rp50 per lembar. Anda bisa baca disini tentang pasar non-reguler: Pasar Reguler, Pasar Negosiasi dan Tunai di Bursa Saham.

Nah jumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) ada 600 lebih, dan bahkan jumlahnya akan terus bertambah. Maka dari itu, sudah pasti setiap saham memiliki harga yang berbeda-beda, yang bergerak naik dan turun setiap saat.

Sebagai contoh, 1 lot saham Indofood mungkin harganya Rp7.000 per lembar. Sedangkan saham Unilever 1 lot-nya adalah Rp47.000. Saham HM Sampoerna 1 lot adalah Rp3.800 dan seterusnya. 

Kenapa harga saham bisa berbeda-beda? Ada beberapa faktor. Pertama, harga IPO setiap saham berbeda-beda tergantung kebijakan perusahaan. Harga IPO saham A bisa saja Rp500. Sedangkan harga IPO saham B Rp4.500. 

Inilah yang menyebabkan harga saham bervariasi ketika dilepas ke pasar saham. Faktor kedua yang menyebabkan harga saham berbeda adalah karena: Mekanisme perdagangan murni. 

Maksudnya adalah, harga saham bergerak naik turun, karena diperdagangkan oleh trader. Saham yang kinerjanya bagus dan likuid, pasti akan banyak dibeli sehingga harganya naik. 

Sebaliknya, saham yang kinerjanya jelek, maka harga sahamnya akan banyak dijual, sehingga harganya cenderung turun. Baca juga: Dari Mana Asal Terbentuknya Harga Saham? 

Karena adanya mekanisme perdagangan inilah yang menyebabkan harga saham per lot bisa berbeda-beda untuk setiap saham. 

Pos ini menuju suatu kesimpulan bahwa harga saham per lot berbeda-beda. Tetapi di pasar reguler, harga saham per lot paling rendah adalah Rp50 per saham (tidak ada harga maksimal). 

Yang menyebabkan harga saham per lot berbeda-beda tiap saham adalah harga IPO awal saham, dan dikarenakan murni transaksi perdagangan saham yang dilakukan oleh pelaku pasar (trader saham). 

Apa Itu Trading Limit Saham?

Dalam trading saham, terdapat istilah TRADING LIMIT. Anda perlu memahami dengan baik apa itu trading limit, karena hal ini berkaitan dengan batasan modal yang bisa anda gunakan dalam trading.

Trading limit saham menunjukkan batas maksimum nasabah bisa membeli saham pada hari tersebut diatas modal yang anda miliki (di cash atau trading balance). 

Bahasa mudahnya, trading limit itu sama dengan batas utang maksimal yang bisa anda pakai trading, atau dalam bahasa saham-nya adalah batas margin trading. Jadi kalau anda sekarang butuh duit Rp500.000, tapi anda perlu membeli barang dengan harga Rp1.000.000. Maka, Rp500.000-nya ini bisa anda dapatkan dengan cara ber-utang. 

Di pasar saham, Rp500.000 ini yang dinamakan dengan margin trading atau leverage. Tapi tentu saja, jumlah uang yang bisa anda gunakan untuk utang ini ada batasnya. Misalnya, dengan modal Rp500.000 yang anda punya, dalam sehari maksimal anda bisa utang ke sekuritas senilai Rp2.000.000. 

Nah, batasan maksimal (sebesar Rp1.500.000 selain modal anda sendiri yang Rp500.000) inilah yang disebut trading limit. Paham sampai disini? 

Trading limit yang anda miliki di akun trading anda bisa berubah setiap hari, tergantung dengan perubahan nilai saham (naik turunnya saham) dan komposisi saham yang anda miliki. 

Karena anda menggunakan fasilitas leverage dari sekuritas, maka tentu saja anda harus ‘mengembalikan utang’ tersebut PLUS BUNGANYA. 

Pada umumnya, jatuh tempo trading limit di sekuritas adalah 6 hari bursa (T+6) terhitung sejak anda membeli saham. Jadi kalau T+6 setelah anda membeli saham, anda tidak menjual saham anda, maka anda akan terkena force sell.    

Dan perlu anda ingat juga, jika anda menggunakan fasilitas trading limit yang diberikan, maka anda akan dikenakan bunga. Misalnya di sekuritas menetapkan bunga sebesar 0,2%. 

Maka, ketika anda membeli saham BMRI pada tanggal 10 Maret misalnya, dengan fasilitas trading limit ini, dan anda memutuskan menjual BMRI tanggal 14 Maret, maka anda harus membayar juga bunga ke sekuritas sebesar 4 * 0,2% = 0,8% (11,12,13,14 Maret = 4 hari). 

Itulah penjelasan tentang trading limit. Pos ini juga saya tulis untuk menjawab pertanyaan rekan2 mengenai apa itu trading limit khususnya buat trading saham. 

Jadi jangan heran kalau saat melihat account summary di posisi account balance saldo anda misalnya ada Rp50 juta. Tetapi di trading limit anda bisa lebih gede dari itu, misalnya Rp60 juta. 

Nah, artinya Rp60 juta itu adalah batas maksimal trading yang bisa anda lakukan di hari tersebut, di mana Rp10 juta-nya itu adalah berasal dari modal yang sekuritas pinjamkan pada anda (utang / margin trading).  

Pos-pos tentang margin trading, dan juga pengalaman saya terkena force sell, bisa anda baca-baca lagi artikelnya disini: Margin Trading Saham: Profit Besar, Rugi Juga Besar, Force Sell di Pasar Saham. 

Catatan: Walaupun anda diberi fasilitas trading limit, di mana anda bisa membeli saham lebih banyak daripada modal anda yang seharusnya, tetapi saya selalu menyarankan pada anda agar tidak menggunakan fasilitas ini. 

Dalam trading, sebaiknya anda tidak menggunakan utang, karena penggunaan margin ini sangat berisiko bagi trader, baik secara psikologis maupun kesehatan portofolio saham anda. 

Di pos-pos tersebut, saya juga menuliskan bahwa margin trading memiliki risiko dan kerugian yang lebih besar, ketimbang keuntungan dan manfaatnya. 

Jam Trading Saham yang Baik

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pertanyaan dari seorang rekan trader. Dan pertanyaannya cukup menarik untuk kita bahas dalam praktik trading. Pertanyaannya sebagai berikut: 

“Pak Heze saya biasanya membeli dan antri saham di pagi hari sebelum market buka, saya antri pakai book order. Terkadang saat market lagi jalan, saya juga order beli. Tapi seringkali saya tidak mendapatkan order harga yang sudah saya pasang. Jam trading saham yang baik itu antara jam berapa saja, agar kita bisa mendapatkan angka buy yang bagus?”

Jujur saja, kalau saya ditanya seperti ini, saya tidak bisa jawab dengan akurat. Lho kenapa? 

Jam trading di Bursa saham itu berlangsung antara jam 09:00-16:00. Dan sebelum pukul 09:00 itu ada yang namanya sesi pre-opening jam 08:55, di mana saham2 LQ45 sudah mulai “dibuka” pada sesi tersebut. Untuk lebih jelasnya anda bisa baca: Jam Trading di Bursa Saham Indonesia. 

Nah, di setiap menit, setiap jam, setiap kesempatan, pasti akan ada momen2 di mana harga saham bagus untuk dibeli. Baik itu pagi hari tepat jam 09:00, atau siang hari, atau bahkan sore harinya. 

Anda tidak boleh terpaku pada satu jam trading tertentu. Karena momen trading yang bagus itu bisa datang kapan saja, tergantung pola grafik sahamnya.  Memang di pos ini: Strategi Trading Saham Efektif di Pagi Hari, antara pukul 09:00-11:30, saya menuliskan bahwa pagi hari adalah waktu yang cukup bagus membeli saham. 

Namun saya juga memberikan beberapa poin penting, bahwa anda juga harus mempertimbangkan kondisi market saat itu, dan mencari saham2 yang memang punya teknikal yang bagus saat closing market, sehingga pagi harinya berpotensi buat naik. 

Jadi meskipun saya akui berdasarkan pengalaman saya, bahwa beli saham di pagi hari itu cukup efektif (sahamnya bisa naik), tapi hal ini TIDAKLAH ABSOLUT, karena poin2 yang saya sampaikan tadi  

Artinya, kalau anda bertanya pada saya jam trading yang terbaik, paling ideal, paling efektif itu jam berapa, maka sebenarnya semua momen terbaik di setiap saat bisa anda temukan. 

Jadi begini, jangan pernah mencoba untuk menemukan kapan jam terbaik buat trading. Anda tidak akan menemukan waktu IDEAL yang benar2 ideal untuk buy saham. Market itu fluktuatif. Artinya, anda juga harus fleksibel, tidak boleh kaku dan terpatok dengan satu titik tertentu. 

Nah, kalau anda berangaapan bahwa pagi hari benar2 ideal, ternyata IHSGnya saat itu langsung dibuka anjlok 1,5%, apakah anda masih mau borong saham di saat2 seperti itu? 

Saran saya: Anda lebih baik fokus pada analisa teknikal, daripada fokus mencari jam trading saham terbaik dan paling ideal.  Karena di jam trading entah itu pagi, pagi menjelang siang, sore, selama di jam trading saham sangat mungkin anda menemukan saham yang bagus yang berpotensi naik.  

Nah kalau anda pasang order, dan order anda sering tidak match, entah saham anda sudah naik duluan sebelum anda sempat dapat sahamnya, itu artinya anda perlu memperdalam analisa saham anda. Bukan masalah jam tradingnya yang tidak mendukung.

Apabila anda punya waktu lebih untuk analisa, anda bisa coba perhatikan pergerakan saham mulai pagi hari. Karena di pagi hari fluktuatif saham biasanya masih cukup bagus, sehingga dengan ini, anda juga punya kesempatan lebih banyak untuk belajar pergerakan2 saham. 

Apa yang saya tulis ini mungkin agak berbeda / kurang berlaku dibandingkan pasar forex. Karena pasar forex dalam sehari bisa diperdagangkan selama 24 jam. Itu artinya, di market forex pasti ada jam2 di mana perdagangan forex cenderung sangat ramai transaksi dan sepi transaksi. 

Tapi kalau di saham sehari perdagangan saham hanya dibuka pukul 09:00 – 16.00. Itu artinya, saya yakin para pelaku pasar alias trader, pasti akan memanfaatkan betul jam2 trading yang ‘terbatas’ ini, untuk meraup untung. 

Kemudian anda ingin bertanya: “Tapi Pak Heze, kalau saya nggak ada banyak waktu buat memantau market, gimana saya mau melakukan analisa saham?

Untuk anda yang tidak punya banyak waktu, anda bisa coba beberapa tips dari saya untuk waktu2 terbaik analisa saham. Anda bisa baca2 tulisan saya disini: Cara Analisa Saham untuk Pekerja Kantoran.

Anda yang sibuk, beberapa strategi beli saham dari saya, kalau setelah anda menganalisis dan anda yakin sahamnya bakalan naik, maka anda bisa coba pasang harga beli anda satu-dua poin diatas harga closing hari sebelumnya, atau satu-dua poin dibawah harga closing hari sebelumnya. 

Order anda nantinya mungkin bisa match pagi harinya, siang hari atau bahkan sore hari. But first, sebelum anda lakukan itu, seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, anda harus fokus dulu ke analisa teknikal, ketimbang memikirkan jam trading yang paling baik. 

Semakin rajin anda melakukan analisis saham, semakin tekun anda berproses, anda akan semakin bagus dalam memprediksi saham2 yang akan naik. Memang semuanya ini dibutuhkan proses. Tidak ada keberhasilan yang instan. 

Sebagai tambahan, agar anda bisa semakin bagus dalam menganalisis saham, anda bisa mencoba menganalisis saham ketika hari libur Bursa. Anda bisa baca tulisan saya disini: Cara Melatih Insting Analisis Trading Saham.

Arti Lot dan Odd Lot dalam Saham

Di dalam perdagangan saham, anda pasti sering mengenal istilah lot. Definisi lot adalah satuan yang digunakan untuk perdagangan saham. Sama seperti ketika anda membeli beras, maka satuannya adalah kilogram. Ketika anda mengisi bensin, satuan yang dipakai adalah liter. Kalau di saham, kita pakai istilah lot ini.  

Jadi kalau anda mau beli dan jual saham, maka anda mengacu pada satuan lot ini. Anda mungkin sering mendengar istilah 1 lot saham. Apa maksudnya 1 lot saham ini? Oke kita langsung bahas bersama. 

Di pasar saham, pengertian 1 lot saham sama dengan 100 lembar sahamJadi kalau misalnya harga saham PT Mayora Indah Tbk ( MYOR) sekarang adalah 2.600, maka anda membutuhkan MODAL MINIMAL Rp260.000 untuk membeli saham MYOR. Itu belum termasuk fee belinya. Perhitungannya: 1 lot * 100 lembar saham * 2.600. 

Sudah paham sampai disini? Kalau belum paham, silahkan baca dan pahami kembali, supaya anda bisa melanjutkan pemahaman di tulisan2 selanjutnya.

1 lot ini adalah jumlah lot minimal yang anda butuhkan agar anda bisa beli saham. Jadi anda tidak bisa beli kurang dari 1 lot. Setelah 1 lot, adalah 2 lot, 3 lot, 4 lot dan seterusnya.  

Apabila anda mau beli saham, anda harus menyesuaikannya dengan jumlah modal yang anda miliki. Semakin besar duit untuk trading yang anda punya, anda bisa membeli saham dengan jumlah lot yang semakin banyak. Baca juga: Jumlah Minimal Lot untuk Beli Saham.  

Di dalam trading saham, anda bisa membeli dan kemudian menjual sebagian saham anda (tidak semua). Misalnya begini, anda membeli saham sebanyak 10 lot. Kemudian anda menjual saham anda hanya 5 lot. Dan sisanya 5 lot tetap berada di portofolio anda. 

ODD LOT SAHAM 

Di Bursa Efek kita juga mengenal istilah odd lot saham. Apa itu odd lot dan apa bedanya dengan lot? Odd artinya ganjil. Berarti odd lot adalah lot yang aneh. Apa maksudnya? 

Odd lot berarti adalah lot yang jumlahnya tidak genap 1 lot, atau tidak genap 100 lembar. Lot adalah kelipatan 100. Jadi kalau anda punya 150 lembar saham misalnya, berarti saham anda adalah odd lot.

Anda mungkin bertanya-tanya: “Kenapa bisa terjadi odd lot di pasar saham? Bukankah Bursa Efek sudah menetapkan bahwa 1 lot itu 100 lembar saham?”

Pertanyaan yang bagus. Odd lot bisa terjadi karena aksi korporasi yang dilakukan perusahaan yang bertujuan untuk menambah kepemilikan, misalnya aksi korporasi right issue atau saham bonus. 

Jadi misalnya PT A melakukan right issue dengan rasio right issue 955 saham lama akan mendapatkan 122 saham baru. Nah, kalau anda punya 1.000 lembar saham alias 10 lot, maka anda akan mendapatkan  saham baru sebanyak: 128 saham baru. Perhitungannya: (1.000:955) * 122. 

Nah jadi sekarang anda memiliki 100 saham plus 28 saham. Karena di pasar saham kita 1 lot = 100 lembar saham, maka 28 saham inilah yang disebut dengan odd lot, karena nggak genap 100 lot. Paham sampai disini?

Masalahnya, saham odd lot yang anda miliki ini tidak bisa dijual di pasar reguler karena seperti yang saya tuliskan tadi, di pasar reguler 1 lot haruslah genap 100 saham. Nah, untuk anda yang punya odd lot karena aksi korporasi, ada beberapa hal yang bisa anda lakukan: 

1. Menjual di pasar non reguler

Anda bisa jual odd lot di pasar negosiasi atau pasar tunai. Baca juga: Cara Transaksi Saham di pasar Negosiasi. Nah, untuk mekanisme transaksi di pasar negosiasi, anda harus bertanya dan proses langsung ke broker anda. Karena transaksi di pasar negosiasi tidak sama dengan pasar reguler. Baca juga: Pasar Reguler, Negosiasi dan Tunai di Bursa Saham.

2. Membeli di pasar negosiasi /tunai untuk menggenapkan jumlah lot 

Atau sebaliknya, anda tidak menjual saham odd lot anda, tetapi anda bisa membeli leagi saham odd lot di pasar negosiasi atau pasar tunai untuk menggenapkan jumlah saham yang anda punya (menjadi 100 lembar saham). 

3. Menunggu aksi korporasi selanjutnya 

Anda juga bisa memilih untuk tidak membeli atau menjual saham odd lot anda. Anda bisa menunggu perusahaan menunggu aksi korporasi selanjutnya, sehingga saat aksi korporasi berikutnya, ada kemungkinan jumlah saham anda bisa menjadi genap kembali. 

Jumlah Minimal Lot untuk Beli Saham

Para pemula yang baru memulai trading saham seringkali bertanya pada saya: “Pak Heze berapa jumlah lot minimal yang kita butuhkan untuk membeli saham? Dan dalam hal apa order kita bisa match?” 

Pertanyaan2 ini sebenarnya masuk dalam mekanisme perdagangan saham. Tentu saja sebelum anda membeli saham, anda perlu memahami hal-hal dasar ini. Jadi kalau anda belum paham tentang hal-hal ini, ada baiknya anda anda menyimak pos yang saya tulis. 

Trading yang anda lakukan, berada di pasar reguler. Di pasar saham reguler, jumlah minimal pembelian saham adalah 1 lot. Jadi kalau anda mau beli saham Indofood (INDF) di harga 7.200 misalnya. Maka, anda harus membeli saham INDF MINIMAL sebanyak 1 lot. 1 lot adalah 100 lembar saham. 

Anda tidak bisa membeli kurang dari lot. Berarti kalau anda mau beli saham INDF di harga 7.200 sebanyak 1 lot, maka anda harus memiliki duit minimal sebesar Rp720.000, belum termasuk fee beli-nya (7.200 * 1 lot * 100 lembar saham). Tentang lot, juga pernah saya bahas disini: Arti dan Ilustrasi Satuan Perdagangan dan Fee Transaksi Saham.

Sekarang anda sudah tahu tentang jumlah minimal lot untuk beli saham. Lalu kapan order beli anda akan match atau deal? Order anda akan match apabila terjadi beberapa kondisi berikut ini: 
1. Anda memasang harga beli langsung di harga best offernya. 

Order anda akan match jika anda memasang harga beli tepat di harga best offer. Apa itu best offer? Apa itu best bid? Saya pernah membahasnya disini tentang mekanisme2 perdagangan saham khususnya tentang antrian harga saham: Permintaan dan Penawaran di Pasar Saham. 

Harga best offer adalah harga penawaran jual terbaik, sehingga kalau anda membeli saham pada harga penawaran jual terbaik, anda akan mendapatkan barangnya (saham) langsung. 

Tetapi di dalam antrian harga saham, harga best offer ini merupakan harga jual yang paling mahal, sehingga kalau anda merasa harga best offer masih terlalu mahal untuk anda, anda bisa memasang harga beli pada harga dibawahnya, tetapi anda harus antri.

2. Anda memasang antrian harga di best bid atau harga di bawahnya, dan ada banyak tekanan beli di harga anda, sehingga order anda match. 

Dalam trading saham, anda bisa melakukan antrian order, jika anda merasa harga di best offer terlalu mahal. Misalnya anda memasang antrian harga beli di 800 sebanyak 5 lot. Anda berada di antrian kelima. Maka, order anda bisa match kalau ada banyak trader yang menjual saham di harga 800, sampai pada antrian harga anda sebanyak 5 lot (antrian kelima tersebut terjual oleh trader, sehingga anda mendapatkan barangnya.

Untuk lebih jelasnya,  tentang cara memasang antrian harga beli dan jual saham dan tampilan bid-offer harga di saham, bisa anda baca mekanismenya disini:  Permintaan dan Penawaran di Pasar Saham. 

Pos ini menjawab pertanyaan beberapa rekan trader mengenai  berapa jumlah lot minimal untuk beli saham dan dalam hal apa order beli kita bisa dikatakan match / done. 

Kalau anda belum memahami ini, anda harus memahaminya terlebih dahulu sebelum anda membeli saham. Mengapa? Karena kalau anda tidak memahami mekanisme perdagangan di saham, anda tidak akan bisa menempatkan order yang betul dalam trading. Memahami mekanisme perdagangan adalah salah satu langkah penting yang harus anda pahami untuk seorang pemula. 

Anda juga bisa mendapatkan materi belajar saham mulai pemula, yang saya susun untuk memandu anda yang ingin benar-benar bisa trading saham dari nol sampai expert disini: Belajar Saham Pemula Sampai Expert. 

Jenis Saham Berdasarkan Nilai Kapitalisasi Pasar

Di pasar saham anda pasti sering mengenal istilah KAPITALISASI PASAR. Kapitalisasi pasar merupakan harga saham x jumlah saham yang beredar. Anda bisa baca-baca lagi tulisan saya disini: Cara Mendapatkan Data Jumlah Saham Beredar dan Kapitalisasi Pasar. 

Besar kecilnya nilai kapitalisasi pasar sesungguhnya dapat anda gunakan untuk mengetahui apakah suatu saham bisa dikategorikan sebagai saham lapis satu, lapis dua atau saham lapis tiga secara KUANTITATIF. 

Di pos yang pernah saya tulis: Memahami Saham Lapis Satu, Dua dan Tiga, saya sebenarnya sudah pernah menjelaskan cukup lengkap pada anda mengenai kriteria2 saham lapis satu, dua dan tiga. 

Namun memang untuk menilai apakah saham termasuk dalam saham lapis satu, dua dan tiga ada unsur subjektifitas dari setiap trader. Di pos ini, saya akan memberikan penjelasan tentang jenis-jenis saham berdasarkan nilai kapitalisasi pasar, yang bisa digunakan untuk menggambarkan klasifikasi saham lapis satu, dua dan tiga (untuk penilaian secara kuantitatif). 

1. Saham lapis satu (saham blue chip) / big caps

Saham lapis satu memiliki nilai kapitalisasi pasar diatas Rp40 triliun. Saham2 yang punya nilai kapitalisasi pasar tersebut, bisa dikatakan saham blue chip. Karena nilai kapitalisasi pasarnya yang besar (jumlah saham beredarnya juga sangat banyak), saham2 ini bisa menjadi penggerak indeks (IHSG). 

Jadi ketika saham2 lapis satu naik atau turun, maka pengaruhnya ke indeks sangat besar. Yang perlu anda ketahui, jumlah saham lapis satu di BEI memang tidak banyak. Paling hanya ada puluhan saja, dan itupun berdasarkan observasi saya, adalah saham2 yang memang sudah lama listing di Bursa. 

Saham2 lapis satu biasanya menjadi pemimpin pasar di industrinya (dalam hal kinerja), memiliki produk2 yang ternama, dan kinerja yang bagus. Serta memiliki likuiditas saham yang cukup baik, dan pergerakan harga yang bagus. Contoh saham2 lapis satu seperti TLKM, ASII, BBRI, BBCA, UNVR, HMSP, dan lain2. 

Saham2 lapis satu juga selalu rutin membagikan dividen dalam jumlah yang cukup besar (secara dividend per share-nya).   

Likuiditas  dan pergerakan saham2 lapis satu cukup baik dikarenakan jumlah saham yang beredar di pasar sangat besar, sehingga banyak yang mentradingkan saham tersebut. 

2. Saham lapis dua (second layer) / medium caps

Saham lapis dua memiliki kapitalisasi pasar antara Rp 1 triliun sampai dengan Rp40 triliun. Saham2 lapis dua adalah perusahaan yang sizenya lebih kecil dibandingkan saham2 lapis satu. Saham2 lapis dua jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan saham2 lapis satu, dan umumnya emitennya memiliki kinerja yang masih cukup baik dari segi fundamental. 

Kalau bicara tentang trading, saham lapis dua ini cukup beragam pergerakannya. Ada saham lapis dua yang pergerakannya likuid. Ada juga saham lapis dua yang tidak terlalu likuid. Nah, untuk memilih saham lapis dua, anda harus lebih selektif melakukan analisa teknikal, karena fakanya banyak saham lapis dua yang pergerakan teknikalnya tidak terlalu bagus. 

Contoh saham2 lapis dua adalah BSDE, SMRA, PWON, ERAA, KLBF, EXCL, BRPT dan masih banyak lainnya. 

3. Saham lapis tiga (third layer) / small caps

Saham lapis tiga memiliki nilai kapitalisasi pasar yang sangat kecil yaitu dibawah Rp1 triliun. Saham-saham third layer ini sering disebut sebagai saham gorengan. Dan saham2 lapis tiga umumnya memiliki kinerja yang tidak terlalu bagus. Banyak emiten2 small caps yang membukukan rugi bersih. 

Karena nilai kapitalisasi pasarnya kecil (dan otomatis jumlah saham yang beredar cuma sedikit), itulah yang menjadi alasan mengapa sahamnya menjadi tidak likuid, tidak banyak peminat. Disinilah kemudian bandar saham banyak berperan untuk memancing ritel, dan menaik-turunkan harga saham sesuai keinginannya. 

Ironisnya, di pasar saham kita sebagian besar ‘dikuasai’ oleh saham2 lapis tiga, yang sahamnya tidak likuid yang sering dan mudah digoreng oleh bandar, bahkan sebagian diantaranya adalah saham tidur (saham yang tidak ditradingkan). 

Saat ini aturan BEI terkait syarat perusahaan yang bisa listing di Bursa semakin dipermudah. Kalau dulu, syarat emiten untuk bisa go public paling tidak nilai IPO-nya harus ratusan miliyar hingga triliyunan. Tapi saat ini, sudah banyak emiten2 kecil yang listing hanya bermodalkan beberapa miliar saja, dan saham yang dilepas ke publik sangat sedikit. 

Sehingga, anda bisa lihat dari hari ke hari, semakin banyak emiten yang go public, tapi sahamnya justru cuman masuk di small caps saja, dan sebagian besar sahamnya sangat tidak likuid. 

Itulah jenis2 saham berdasarkan nilai kapitalisasi pasarnya. Semakin besar nilai kapitalisasi pasar dan semakin likuid saham tersebut, saham tersebut semakin bagus untuk ditradingkan. 

Sebagai trader pilihlah saham2 yang kapitalisasi pasarnya besar, atau setidaknya saringlah saham2 medium caps yang likuid. 

1 Lot akan Berubah Menjadi 20 Lembar Saham

Di pasar saham kita di Bursa Efek Indonesia (BEI), 1 lot saham adalah 100 lembar. Jadi kalau misalkan anda ingin beli saham HRUM di harga 2.500 sebanyak 15 lot, maka jumlah uang yang harus anda keluarkan adalah 2.500 * 15 lot * 100 lembar = Rp3.750.000. Baca juga: 1 Lot Berapa Lembar Saham? 

Saat ini terdapat wacana bahwa 1 lot saham akan diturunkan menjadi 20 lembar atau 50 lembar saham. Hal ini memang masih dalam kajian, tapi ada baiknya kita membahas soal ini, karena hal ini penting untuk trader saham, terutama trader yang masih pemula. Dan kalau aturan ini nantinya benar2 direalisasikan, menurut saya dampaknya akan cukup besar ke pasar saham. 

Apa dampaknya? Dampak positif yang akan kita rasakan secara langsung tentu saja: Pasar saham kita akan menjadi jauh lebih likuid. Sekedar informasi, dulu sebelum 1 lot saham menjadi 100 lembar saham (sebelum 6 Januari 2014), 1 lot saham adalah 500 lembar.

Itu artinya jika menggunakan aturan 1 lot = 500 lembar, jika anda ingin membeli saham HRUM (contoh diatas) di harga 2.500 sebanyak 15 lot, maka uang yang harus anda keluarkan bukan lagi Rp3.750.000, tetapi Rp18.750.000! Berkali-kali lipat lebih besar. 

Penulis ingat benar saat2 1 lot masih 500 lembar, beli saham-saham blue chip seperti ASII saja sulit dapat jumlah lot yang banyak, dan harus benar2 itung-itungan. Padahal saham2 blue chip di saat itu sebenarnya sedang bagus2nya untuk ditradingkan. 

Setelah adanya aturan 1 lot = 100 lembar ini, dampak yang penulis rasakan benar2 terbukti: Pasar saham jadi lebih banyak peminatnya. Saham2 blue chip jadi lebih ramai. Tapi penulis tetap saja masih merasa ada yang kurang. 

Kenapa demikian? Karena Walaupun pasar saham kita sudah lebih likuid, tapi sekarang masih banyak saham di BEI yang kurang likuid, padahal saham tersebut adalah perusahaan2 yang produknya dikenal oleh masyarakat luas. Contohnya anda bisa perhatikan saham Ultrajaya, Mayora, Ace Hardware.. 

Saham-saham ini bid-offernya atau jumlah orang yang mentradingkan masih sangat sedikit. Padahal, produk2nya dikenal masyarakat luas. Jujur saja, penulis sendiri pingin sekali trading di saham2 ini, tapi kalau lihat bid-offernya yang cuma beberapa puluh orang aja, saya beli-nya nggak berani banyak-banyak, karena saya merasa lebih nyaman kalau beli saham yang peminatnya banyak. You know seperti PTBA, BBRI, ASII, BBNI dan lain2.. Saham2 itu kalau anda perhatikan, bid-offernya ribuan.. 

Di sisi lain, saham-saham blue chip yang harganya sudah tinggi seperti GGRM dan UNVR, dengan aturan 1 lot = 100 lembar, maka itu belum cukup menjangkau banyak investor ritel. Jadi wajar saja kalau saham GGRM dan UNVR tidak banyak yang mentradingkan. 

Nah, katakanlah nanti 1 lot akan benar2 berubah jadi 20 lembar, maka dampak positifnya akan sangat besar seperti yang saya katakan tadi: Pasar saham akan jauh lebih likuid. Dan memang ini harapan penulis dari dulu. Kalau semakin banyak orang bisa menjangkau saham, bukan sesatu yang mustahil saham2 yang brand-nya sudah dikenal seperti MYOR, ACES, ULTJ akan lebih likuid, dan anda sebagai trader juga akan punya lebih banyak opsi saham yang bisa ditradingkan. 

Karena banyak pemula di pasar saham yang trading dengan modal Rp1 – 3 juta, maka jika jumlah lembar saham jadi 20 lembar, tentu saja hal ini akan memberikan kesempatan anda untuk belajar saham lebih banyak: Anda punya opsi lebih banyak untuk pilih saham2 blue chip, bukan hanya saham2 murah. Baca juga: Cara Membeli Saham Murah. 

Tetapi dampak negatifnya juga ada. Dampak negatif utamanya adalah saham2 lapis tiga yang harganya dibawah 500, akan benar2 jadi mainan bandar. Bandar akan punya kekuatan yang jauh lebih besar untuk menggoreng sahamnya. 

Nah kalau modal anda kecil, dan nekad terjun di saham2 gorengan, ya risikonya akan sangat besar untuk anda. Namun risiko ini bisa diminimalkan dengan menghindari saham2 lapis tiga, karena sekali lagi, jika hal ini benar2 terealisasi, maka opsi saham kita akan jadi jauh lebih banyak, sehingga trader bisa mengurangi porsi trading di saham gorengan, dan memilih saham2 yang lebih bagus.   

Satu lagi, jika 1 lot diubah jadi 20 atau 50 lembar saham, maka mungkin akan ada banyak trader yang senang. Sama ketika pada saat 2 Mei 2016 BEI mengubah fraksi harga jadi lebih sempit, maka mulai banyak trader saham yang bertanya pada saya dan berencana mulai memborong saham dalam jumlah banyak. Baca juga: Fraksi Harga Baru dan Dampaknya terhadap Pasar Modal

Padahal dengan berubahnya fraksi harga menjadi lebih banyak opsi, efeknya ke IHSG tidak terlalu besar. Bukan berarti saat fraksi harga lebih bagus, IHSG akan jadi naik terus. Demikian juga ketika nantinya 1 lot diubah jadi 20 atau 50 saham, bukan berarti setelah2nya, IHSG akan langsung naik. Efek utamanya adalah pada likuiditas. 

Berkaca dari pengalaman perubahan fraksi harga ini, maka dari itu, anda juga tetap harus trading mengikuti trading plan anda. Terutama untuk anda yang udah punya duit lumayan gede buat trading, katakanlah Rp50 juta, jangan langsung kalap beli saham, karena bagaimanapun juga pertimbangan2 dari trading plan harus anda perhatikan.  

Hmmm.. Tapi ini masih menjadi wacana BEI alias belum terealisasi. Namun cepat atau lama, BEI pasti akan merealisasikan hal ini, karena BEI juga pasti nyadar dengan Program Yuk Nabung Saham ini investor pemula dengan modal kecil semakin banyak, maka BEI pasti akan memberikan kemudahan2, salah satunya dengan menurunkan aturan tentang lot saham ini. 

Pos ini saya tulis sekarang supaya nantinya psikologis anda tetap bisa berjalan, logika trading anda tetap yang utama ketika anda mengetahui anda bisa membeli saham lebih banyak dengan modal yang kecil, sehingga anda tetap bisa menghasilkan profit.  

Sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI) Sampai Sekarang

Pasar modal dan pasar saham tidak pernah lepas dari peran Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI memiliki tugas-tugas antara lain adalah mengatur mekanisme perdagangan trading saham agar dapat terlaksana dengan wajar, sehat dan wajar. Anda pasti sering mendengar istilah BEI ini. BEI sendiri kantor pusat / gedungnya ada di Jakarta, sedangkan cabangnya ada di Surabaya. 

Ngomong-ngomong tentang BEI, BEI sebenarnya sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Dan sampai sekarang fungsi dan peran BEI terus dijalankan sebagaimana mestinya. Kalau anda ingin tahu tentang sejarah Bursa Efek Indonesia, berikut sejarah terbentuknya Bursa Efek Indonesia sampai sekarang:

[Desember 1912] Bursa Efek Indonesia pertama kali dibentuk di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda. 

[1914-1918] Bursa Efek di Batavia sempat ditutup karena Perang Dunia I

[1925-1942] Bursa Efek dibuka kembali di Jakarta, bersama-sama dengan Bursa Efek di Semarang dan Surabaya. Namun Bursa Efek Semarang dan Surabaya ditutup kembali tahun 1939.

[Awal tahun 1939] Bursa Efek di Semarang dan Surabaya kembali ditutup karena isu politik Perang Dunia II

[1942-1952] Bursa Efek di Jakarta ditutup kembali karena adanya Perang Dunia II

[1956] Bursa Efek kembali tidak aktif karena program nasionalisasi perusahaan Belanda

[1956-1977] Perdagangan di Bursa Efek vakum total

[10 Agustus 1977] Awal kebangkitan Bursa Efek. Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto, dengan nama Bursa Efek Jakarta. BEJ berada dibawah Bapepam (Badan Pelaksana Pasar Modal). Pengaktifan kembali pasar modal ditandai dengan PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama yang go public.

[1977-1987] Perdagangan di Bursa Efek lesu. Tahun 1987, jumlah emiten baru mencapai 24. Sedangkan masyarakat lebih memilih instrumen perbankan ketimbang pasar modal. 

[1987] Hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES 1987) yang memberikan kemudahan bagi emiten untuk melakukan Penawaran Umum dan investor asing untuk menanamkan modal di pasar modal Indonesia.

[1988-1990] Paket deregulasi di bidang Perbankan dan Pasar Modal diluncurkan. BEJ terbuka untuk asing, dan aktivitas di Bursa mulai meningkat. 

[2 Juni 1988] Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer. 

[Desember 1988] Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES 88) yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk go public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal. 

[16 Juni 1989] Bursa Efek Surabaya (BES) mulai berporeasi dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta, yaitu PT Bursa Efek Surabaya.

[13 Juli 1992] Swastanisasi BEJ. Bapepam berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ.

[22 Mei 1995] Sistem Operasi Perdagangan di BEJ mulai dilaksanakan dengan sistem komputer JATS (Jakarta Automatic Trading System). 

[10 November 1995] Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai berlaku Januari 1996.

[1995] Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya. 

[2000] Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (Scriptless) mulai diaplikasikan di pasar modal Indonesia.

[2002] BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading). 

[30 November 2007] Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) dan Bursa Efek Jakarta (BEJ) menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI)

[2 Maret 2009] Peluncuran Perdana Sistem Perdagangan Baru PT Bursa Efek Indonesia bernama JATS-NextG